alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Cahaya Puasa di Balik Pandemi Korona

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

Dalam kehidupan, usaha atau bekerja menjadi bagian penting yang tidak dapat ditinggal. Sebab, orang kerja dan tidak, akan tetap sama-sama merasakan lelah. Nah, selain menjalani usaha dengan tekun, Abu Hasan mengingatkan bahwa puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan. Untuk memulai agar umat muslim hidup lebih berkah, maka perlu menata niat dan kontinu dalam beribadah.

Abu Hasan memberikan tips untuk bisa memulai istiqamah. Menurutnya, cukup dilakukan dengan hal sederhana. Misalnya membaca Alquran setiap pagi atau waktu tertentu. “Paling tidak, membaca surat Al Fatihah. Apakah saat mau berangkat bekerja atau pulangnya. Insyaallah akan ada perubahan dan hidup lebih berkah,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Mobile_AP_Half Page

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

Dalam kehidupan, usaha atau bekerja menjadi bagian penting yang tidak dapat ditinggal. Sebab, orang kerja dan tidak, akan tetap sama-sama merasakan lelah. Nah, selain menjalani usaha dengan tekun, Abu Hasan mengingatkan bahwa puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan. Untuk memulai agar umat muslim hidup lebih berkah, maka perlu menata niat dan kontinu dalam beribadah.

Abu Hasan memberikan tips untuk bisa memulai istiqamah. Menurutnya, cukup dilakukan dengan hal sederhana. Misalnya membaca Alquran setiap pagi atau waktu tertentu. “Paling tidak, membaca surat Al Fatihah. Apakah saat mau berangkat bekerja atau pulangnya. Insyaallah akan ada perubahan dan hidup lebih berkah,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

Dalam kehidupan, usaha atau bekerja menjadi bagian penting yang tidak dapat ditinggal. Sebab, orang kerja dan tidak, akan tetap sama-sama merasakan lelah. Nah, selain menjalani usaha dengan tekun, Abu Hasan mengingatkan bahwa puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan. Untuk memulai agar umat muslim hidup lebih berkah, maka perlu menata niat dan kontinu dalam beribadah.

Abu Hasan memberikan tips untuk bisa memulai istiqamah. Menurutnya, cukup dilakukan dengan hal sederhana. Misalnya membaca Alquran setiap pagi atau waktu tertentu. “Paling tidak, membaca surat Al Fatihah. Apakah saat mau berangkat bekerja atau pulangnya. Insyaallah akan ada perubahan dan hidup lebih berkah,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Jumai
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Kemangi, Kunci Wangi Alami

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Pemerintah Harus Intervensi

Berkah di Penghujung Ramadan

Tak Boleh Gelar Open House

Lho, Ada yang Mudik Malam Hari

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran