Tanpa Braille, Harus Didikte

JEMBER – Putri Nugrahaning Widi, seorang tunanetra low vision, mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) bertempat di SMPN 3 Jember, kemarin (16/5). Sayangnya, soal yang akan dikerjakan oleh Putri sama dengan peserta normal lainnya. Padahal, sebagai tunanetra dia harus menggunakan huruf braille untuk membaca.

Karena itulah, dia pun mendapat perlakuan khusus saat ujian berlangsung. Dia juga harus didampingi petugas yang sekaligus membacakan semua soal ujian tersebut.

“Biasanya ujian pakai (huruf) Braille. Tapi kalau tidak ada, mendengarkan soal yang dibacakan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember. Hal itu membuat Putri semakin mudah untuk mengerjakan soal, karena tidak harus membaca, tapi cukup mendengarkan.

Tidak adanya soal berhuruf Braille tak dipermasalahkan Putri dan orang tuanya. Sebab, dia masih bisa mengerjakan soal ujian dengan baik. Untuk itu, dia merasa harus peka terhadap soal yang dibacakan oleh petugas. “Tapi sudah terbiasa mendengarkan soal,” ujarnya.

Pilihan kuliah Putri di Malang, yakni jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Sebab, di Jember jurusan itu masih belum ada. Dia bercita-cita menjadi seorang guru difabel agar bisa mengajar anak difabel lainnya.

Jika lolos, kata Retno (ibunya), Putri akan tinggal di Malang dan belajar hidup mandiri, tanpa didampingi orang tuanya. ”Kemandirian perlu diajarkan agar tidak bergantung para orang lain. Orang tua tidak selamanya bisa mendampingi dia,” ujarnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar