Batik Notohadinegoro

JEMBER – Eksplorasi seni. Begitu yang dilakukan owner Batik Notohadinegoro Indi Wulandari. Setiap karya batik yang dihasilkan, dipastikan memiliki karakter khas Jember. Bukan karena nilai warisan. Sebab, batiknya dia desain dengan karakter kekinian.

          Setiap bulannya, ada disain baru dari Rumah Batik Notohadinegoro. Semua bercerita tentang potensi yang dimiliki Jember, yang dikemas dengan karya kontemporer.

          Salah satu motif batik keluaran terbarunya diberinya nama Jamu Gendong. Terinspirasi dari penjual jamu yang biasa mangkal di jempatan penyeberangan orang (JPO) Jompo. Indi berani mengeksplorasi tema penjual jamu gendong karena ada jembatan Jompo yang begitu identik dengan Jember.

          Indi mengatakan, kain batik yang laris di pasaran, di antaranya bertema Bathari Boemi Labako. Batik model itu dia rilis belum setahun silam. Motif tersebut laris di pasaran karena ada cerita fenomenal di dalamnya. Tentang seorang bupati perempuan yang dinilai ketegasannya menimbulkan kontroversi. “Ceritanya tentang seorang dewi yang berani memimpin dengan cara baru di bumi Pandhalungan Jember,” ujarnya.

          Indi meyakini, batik bukan hanya karya seni. Namun, bisa diaktualisasikan untuk menyampaikan sebuah ekspresi. Mulai dari tradisi, budaya, hingga persoalan ekonomi dan politik. “Memang harus tetap menjaga pakem. Tapi, pakem bukan untuk membatasi kreasi,” katanya.

          Yang khas dari batiknya adalah selalu ada daun tembakau di setiap desainnya. Seperti cerita tentang nelayan Puger, yang tetap dia bingkai dengan daun tembakau. “Jika gambarnya hanya perahu nelayan, saya rasa di tempat lain juga ada nelayan,” imbuhnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar