Mudik Lebaran Menebar Bencana

MUDIK lebaran, keterbatasan ruas jalan, dan laju pertumbuhan kendaraan bermotor, adalah agenda persoalan rutin sekaligus beban moral dan psycologis bagi setiap pemerintahan di Indonesia. Karena mudik, ruas jalan, dan kendaraan bermotor tidak saja membuat arus lalu-lintas menjadi semrawut dan macet, tetapi juga selalu menimbulkan banyak korban jiwa.

Mudik atau pulang rindu kampung, telah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mudik adalah mobilitas masyarakat dari suatu daerah atau kota dimana dengan alasan-alasan tertentu mereka menetap secara permanen atau sementara, kemudian pada saat-saat tertentu mereka kembali ke daerah asal untuk tujuan-tujuan tertentu. Mudik, biasanya dilakukan pada hari-hari libur panjang, hari raya dan hari- hari tertentu yang bersifat monumental di daerah asal.

Pulang rindu kampung yang paling semrawut dan meyita banyak ruas jalan, adalah mudik lebaran, yaitu mudik yang dilaksanakan dalam rangka untuk menyambut hari raya iedul fitri, mengunjungi sanak famili atau silaturrahmi di kampung halaman. Namun, mudik lebaran bukan lagi monopoli umat Islam, tetapi sudah menjadi milik bangsa atau rakyat Indonesia, tanpa memandang ras, agama dan golongan.

Mudik lebaran juga merupakan kegiatan tahunan pada semua strata sosial, mulai dari pekerja rumah tangga, pekerja bangunan, bakul jamu gendong, pekerja industri, PK5, penguasha kecil dan menengah, pegawai pemerintah, mahasiswa, dan lain sebagainya. Dengan demikian, jumlah pemudik setiap tahun terus meningkat sebanding dengan jumlah warga yang dengan alasan tertentu berdomisili diluar wilayah daerah asalnya.

Salah satu sebab meningkatnya jumlah pemudik pada setiap lebaran, adalah laju urbanisasi dari desa atau daerah ke kota, seperti ke Jakarta, Surabaya, Semarang  dan kota-kota industri lainnya, di Jawa maupun luar Jawa. Perpindahan penduduk ini  biasanya didasarkan pada alasan-alasan tertentu menurut kepentingan masing-masing, misalnya untuk melanjutkan sekolah atau kuliah, memperoleh penghasilan yang lebih baik dibanding di tempat asalnya, mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan sesuai, serta mengikuti suami atau istri.

Urbanisasi sebagai penyebab mudik, tentunya masih belum bisa dijadikan ukuran akan meluapnya jumlah pemudik pada setiap lebaran. Faktor transmigran asal Jawa dari berbagai lokasi transmigrasi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang telah berhasil meningkatkan kemakmuranya, juga ikut menambah deretan panjang arak-arakan kendaraan di jalanan.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar