Pencabulan Marak di Jember, Tuntaskan!

BERULANG kasus pencabulan menjadi permasalahan yang serius dihadapi Kota Jember. Pasalnya, setelah sebelumnya beredar pemberitaan-pemberitaan di media mengenai maraknya kasus pencabulan terhadap anak di Jember, yang salah satunya pernah diberitakan bahwa sejumlah wali murid di salah satu SD di Desa Glundengan Kecamatan Wuluhan mendatangi polsek dan UPTD Pendidikan Kecamatan Wuluhan, Rabu pagi (10/2). Mereka melaporkan kepala sekolah yang diduga mencabuli siswinya. Salah seorang wali murid menjelaskan, kasus dugaan pencabulan itu terungkap setelah ada informasi yang berkembang, kalau kepala sekolah sering melakukan perbuatan cabul terhadap siswinya. Setelah mendengar informasi tersebut, sejumlah wali murid menanyai anak perempuannya. Ternyata jawaban anaknya sangat mengejutkan. Kepala sekolah suka menggerayangi aurat dan organ kewanitaan anaknya (prosalina.com, 10/2).

Kali ini, seperti yang dilansir dari laman media Suara Jatim Post diberitakan “Kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur kembali terjadi di Kecamatan Ledokombo. Sebut saja mawar, seorang bocah kelas 4 SD warga Desa Lembengan, Kecamatan  Ledokombo, mengaku disetubuhi pria yang sudah beristri di kebun pohon pepaya. Diakuinya pelaku berinisial NP (40) yang masih tetangganya, pria hidung belang ini melakukan aksinya pada siang bolong pada bulan ramadhan (suarajatimpost, 2/7).

Tentu, fakta-fakta kejahatan di atas masih secuil kisah yang mengiris sanubari masyarakat Jember, terutama para orang tua. Bagaimana tidak? Banyak kasus pencabulan yang menjadikan anak sebagai sasaran pelaku alias sebagai korbannya. Masa depan anak menjadi perhatian serius dan para orang tua pun terusik dengan momok kasus pencabulan yang kerap terjadi dimana-mana dan dapat menimpa siapa saja. Alhasil, ketakutan dan kekawatiran para orang tua terhadap pergaulan anak menjadi tak terelakkan, sebab kondisinya belum ada jaminan rasa aman dan tenang. Oleh karenanya, menjadi sebuah kewajaran dan keharusan bagi seluruh pihak untuk turut serta memikirkan solusi dan mempedulikan sekitarnya.

Ada Asap, Pasti Ada Api

Jika direnungkan, maraknya pencabulan dan perkosaan bersumber pada berkembangnya ide sekulerisme dan kebebasan. Mengapa? Sekulerisme meminggirkan keimanan dan ketakwaan.  Jadilah, masyarakat sekarang ibarat mobil remnya blong.  Sementara, paham dan praktek kebebasan ibarat gas yang mendorong, memacu dan membuka peluang terjadinya pencabulan dan perkosaan.

Imbasnya, berbagai pemicu syahwat, seperti pornografi, pornoaksi dan berbagai hal yang membuka peluang terjadinya kejahatan itu begitu marak dan tersebar luas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.  Konsumernya dari segala umur. Tindakan-tindakan mencegah, menindak dan menanggulanginya masih sangat minim dilakukan. Disisi lain, sistem hukum yang seharusnya berfungsi sebagai palang terakhir nyata-nyata begitu lemah dan malfungsi. Hukuman bagi pelaku yang ada dinilai banyak kalangan tidak memberikan efek jera dan melindungi kaum wanita. Hukuman bagi pelaku pelecehan seksual, pencabulan atau perkosaan begitu ringan, tidak punya efek jera.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar